Ogoh-ogoh yang digarap oleh STT Taruna Bhakti, Banjar Adat Jagatamu, Desa Meliling, merupakan salah satu dari lima Sekaa Teruna yang telah dinyatakan lolos seleksi awal secara daring di wilayah Kecamatan Kerambitan, bersama dengan ST Eka Dharma (Banjar Adat Beluluk, Desa Timpag), ST Panji Semerang (Banjar Sembung Meranggi, Desa Sembung Gede), ST Tri Puspajati (Banjar Lebah, Desa Tista), dan STT Silabhakti (Banjar Dangin Pangkung, Desa Tista).
Pada hari ini, Tim Penilai Kabupaten telah melaksanakan penilaian lapangan terhadap ogoh-ogoh bertema “SANDIKALA”, sebuah tema yang lahir dari kearifan lokal dan refleksi mendalam atas nilai-nilai spiritual masyarakat Bali.
Makna dan Filosofi Tema “Sandikala”
Sandikala merupakan mitos dan kepercayaan masyarakat Bali mengenai waktu peralihan antara siang dan malam, sekitar pukul 18.00–19.00 WITA, yang diyakini sebagai waktu sakral. Pada masa inilah tabir antara dunia nyata (sekala) dan dunia tak kasatmata (niskala) menjadi menipis. Oleh karena itu, secara turun-temurun orang tua melarang anak-anak bermain di luar rumah, melakukan aktivitas berat, atau tidur pada waktu tersebut, karena dipercaya dapat mendatangkan gangguan niskala, kesialan, maupun dampak kesehatan.
Pesan moral utama dari Sandikala adalah penghormatan terhadap waktu, keharmonisan alam, serta kesadaran manusia akan batas-batas perilaku yang selaras dengan tatanan kosmis.
Dalam konteks filosofis, Kala berasal dari bahasa Sanskerta yang bermakna waktu. Kala bukan sekadar satuan temporal, melainkan prinsip kosmis yang absolut, tidak tercipta dan tidak musnah, yang terus bergerak mengendalikan keberlangsungan semesta. Kala adalah realitas yang tidak terhentikan—ia menjadi saksi dan pengatur perjalanan kehidupan.
Lebih lanjut, figur Kala Ulun Bukal diwujudkan sebagai manifestasi Butha Kala yang memperoleh kawisesan atau penugrahan dari Bhatara Siwa, khususnya pada saat Sandikala. Kala Ulun Bukal ditugaskan untuk memastikan bahwa pada waktu peralihan sore menuju malam, manusia tidak berkeliaran atau beraktivitas tanpa tujuan yang jelas, sebagai bentuk penegakan keseimbangan antara dunia manusia dan hukum alam semesta.
Proses Penciptaan dan Kemandirian Karya
Ogoh-ogoh Sandikala ini dikerjakan selama kurang lebih dua bulan, seluruhnya pada waktu senggah (malam hari), sebagai wujud pengabdian dan gotong royong generasi muda Banjar Adat Jagatamu.
Seluruh proses—mulai dari perencanaan konsep, perancangan bentuk, arsitektur ogoh-ogoh, pengerjaan teknis, hingga penyelesaian akhir—dilakukan secara mandiri oleh STT Taruna Bhakti, tanpa bantuan tenaga profesional maupun pihak luar banjar. Arsitektur dan gaya visual ogoh-ogoh sepenuhnya merupakan karya asli pemuda Banjar Jagatamu, lahir dari kreativitas lokal dan pemahaman budaya yang hidup di tengah masyarakat adat.
Dari sisi pendanaan, pembuatan ogoh-ogoh ini menghabiskan biaya material sekitar Rp 35.000.000,-, yang sepenuhnya bersumber dari swadaya masyarakat adat, baik dalam bentuk dana, material, maupun dukungan moral. Hal ini mencerminkan kuatnya rasa memiliki, solidaritas, dan tanggung jawab kolektif terhadap pelestarian seni dan nilai budaya Bali.
Harapan dan Permohonan Pertimbangan
Penilaian yang dilaksanakan hari ini merupakan tahapan penting untuk menentukan perwakilan Kecamatan Kerambitan di tingkat Kabupaten. Masyarakat Banjar Adat Jagatamu dengan penuh kerendahan hati dan keyakinan moral berharap agar Ogoh-ogoh “Sandikala” dapat dipertimbangkan secara serius untuk mewakili Kecamatan Kerambitan.
Keyakinan ini didasarkan pada:
1. Kemandirian penuh dalam seluruh proses penciptaan, tanpa intervensi pihak luar;
2. Kedalaman filosofi tema, yang relevan dengan kehidupan spiritual dan sosial masyarakat Bali sehari-hari;
3. Partisipasi aktif masyarakat adat, baik secara fisik, material, maupun emosional;
4. Nilai edukatif dan pesan moral yang kuat bagi generasi muda tentang penghormatan terhadap waktu, alam, dan tatanan kosmis.
Besar harapan kami agar Panitia dan Tim Penilai berkenan melihat Ogoh-ogoh Sandikala tidak semata sebagai karya visual, tetapi sebagai manifestasi kejujuran proses, ketulusan pengabdian, dan komitmen generasi muda adat dalam menjaga warisan budaya Bali.
Atas perhatian dan kebijaksanaan Panitia Penilai, kami sampaikan terima kasih yang sebesar-besarnya.
Kelian adat jagatamu
I ketut Sukiasa
Br. Jagatamu, Meliling, Kec. Kerambitan, Kab. Tabanan, Bali
+62 812-3730-7574
Senin - Jumat: 08.00 - 17.00 WIB
Sabtu: 08.00 - 12.00 WIB